Menjaring Prospek Inovasi Dalam Transisi Energi

Menjaring Prospek Inovasi Dalam Transisi Energi

NasionalAceh.com  Pertemuan tingkat menteri G20 Ministerial Meeting on Energy Transitions and Global Environment for Sustainable Growth, yang digelar di Karuizawa, telah berakhir pada Minggu (16/6). Salah satu keputusannya ialah pencapaian transisi energi untuk pertumbuhan berkelanjutan melalui inovasi.

Keputusan ini sesuai dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah mengamanatkan negara-negara dan berbagai pemangku kepentingan akan pentingnya energi yang lebih bersih dan terjangkau (cleaner and more affordable energy). Transisi energi juga merupakan bagian integral dari upaya penurunan emisi karbon global dalam mitigasi perubahan iklim yang telah disepakati dalam Paris Agreement.

Inovasi energi memiliki arti penting dalam mendorong suksesnya transisi energi, yang seharusnya bisa berkontribusi dalam membantu negara-negara dalam melakukan transisi energi, termasuk negara-negara berkembang. Untuk itu ada beberapa upaya yang harus dilakukan dalam penerapan inovasi energi dalam transisi energi.

Pertama, negara-negara, pelaku bisnis, dan para pemangku kepentingan harus terus mengedepankan inovasi teknologi energi dalam energi transisi. Inovasi tidak hanya mencakup research and development (R&D), namun juga pengembangan kebijakan energi dan pasar yang kompetitif dalam transisi energi (IEA, 2019). Inovasi dalam pengembangan teknologi energi yang lebih bersih harus menciptakan fleksibilitas dan terobosan dalam formulasi kebijakan-kebijakan yang mendukung upaya-upaya pembangunan berkarbon rendah.

Kedua, transisi energi yang dicapai melalui inovasi seharusnya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi, situasi dan keberagaman ketersediaan sumber daya di negara masing-masing. Dengan demikian, sumber daya setempat dapat dioptimalkan dalam meningkatkan akses energi dan ketahanan energi. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip Paris Agreement, yakni penggunaan keberagaman sumber daya dan cara setiap negara berdasarkan kemampuan negara masing-masing, sehingga setiap negara mempunyai kontribusi (nationally determined contributions). Tujuannya adalah untuk mengurangi emisi global, dengan beragam cakupan dan strateginya sesuai kemampuannya masing-masing (common-but-differentiated responsibilities).

Ketiga, transisi energi seharusnya juga menekankan aspek keterjangkauan dan berkeadilan (affordability and equity). Sebanyak 1,1 miliar penduduk bumi masih kekurangan akses terhadap listrik yang terjangkau, bersih dan berkeadilan (IEA, 2017). Sekitar 2 miliar masih memakai bahan bakar yang tidak bersih untuk memasak (WRI, 2018). Di Indonesia, masih ada sekitar 2.500 rumah tangga yang belum memiliki akses listrik. Oleh karena itu, transisi energi harus memastikan bahwa tidak ada yang terpinggirkan (leaving no one behind).

Peluang Inovasi Energi
Inovasi tidak boleh hanya sebagai wahana R&D dengan biaya investasi tinggi, namun juga sebagai solusi dalam menjamin ketahanan energi dan akses energi serta alat untuk menjamin pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja. Inovasi juga menjamin aspek ketersediaan (availability) dan keterjangkauan (affordability) energi yang berkeadilan dalam transisi energi.

Implementasi energi berkeadilan di Indonesia diwujudkan dalam beberapa program. Di antaranya, pencapaian 100% rasio elektrifikasi, pemerataan dan keterjangkauan, keberlanjutan, serta kemandirian. Program pencapaian 100% rasio elektrifikasi tidak hanya menyediakan listrik untuk rumah tangga, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan bisnis dan industri. Hingga akhir 2018, rasio elektrifikasi sudah mencapai 98,3%, lebih besar daripada target ditetapkan sebesar 97,5%. Diharapkan rasio elektrifikasi akan mencapai 99,9% pada akhir 2019.

Untuk menerangi di daerah-daerah terpencil, yang tidak ada jaringan distribusi listrik, digunakan panel tenaga surya dengan memasang 4 lampu di setiap rumah penduduk. Pencapaian 100% rasio elektrifikasi, tidak hanya menerangi di daerah-daerah yang sebelumnya gelap menjadi terang, tetapi juga mendorong bisnis dan industri, yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan perluasan lapangan pekerjaan.

Untuk mencapai keberlanjutan ketersediaan energi, salah satu program diterapkan ialah menggantikan energi fosil dan menciptakan energi bersih. Untuk itu, pemerintah secara terus-menerus melakukan pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Beberapa program EBT, di antaranya penggunaan biodiesel 20% (B20) yang akan ditingkatkan ke B30 pada 2020 hingga menjadi B100 ke depannya, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan bayu, program pembangkit listrik tenaga surya atap (rooftop), dan pengembangan kendaraan listrik.

Di sektor transportasi, selain menggalakkan penggunaan kendaraan listrik, Indonesia juga mengembangkan biofuel berbasis sawit untuk menghasilkan avtur dan solar yang lebih ramah lingkungan. Untuk itu, Pertamina sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan raksasa migas Italia, Eni Sp.A dengan mengembangkan kilang di Plaju Indonesia dan kilang di Italia untuk menghasilkan solar dan avtur berbasis sawit. Penggunaan sawit dalam jumlah besar mengoptimalkan potensi sawit yang berlimpah di Indonesia, sehingga bisa mendongkrak harga sawit yang saat ini sedang terpuruk.

Dalam bauran energi pembangkit listrik di Indonesia memang masih didominasi penggunaan batu bara yang mencapai 57 persen. Namun, PLTU batu bara tidak bisa serta merta dihapuskan karena Indonesia masih memiliki sumber daya batu bara dalam jumlah besar. Oleh karena itu, inovasi energi di Indonesia termasuk melakukan R&D untuk mengembangkan batu bara menjadi energi yang lebih bersih. Ke depannya, integrasi antara pembangkit listrik yang bersumber dari energi konvensional dan energi terbarukan, pemanfaatan gas, serta teknologi batu bara yang lebih bersih.

Untuk menangkap peluang inovasi energi, yang menjadi kesepakatan bersama Forum Energi G20, Indonesia harus menjalin kolaborasi internasional. Hal ini penting dalam sharing best practices dan transfer teknologi, yang juga telah diamanatkan dalam Paris Agreement. Secara kapasitas dan teknologi, Indonesia harus mengejar innovations gap dan menyerap praktik-praktik terbaik, serta terobosan-terobosan yang telah dilakukan negara-negara maju dalam inovasi energi.

Dengan semangat pembangunan untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan, Indonesia harus melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan transisi energi menuju energi yang lebih bersih, terjangkau dan berkeadilan. Berbagai upaya itu ditempuh melalui inovasi-inovasi R&D yang inklusif dan melibatkan kolaborasi global, sesuai dengan salah satu keputusan G20 Ministerial Meeting on Energy Transitions and Global Environment for Sustainable Growth. (X-12)

Penulis: Fahmy Radhi dan Y Nindito Adisuryo (Pengamat Ekonomi Energi Univesitas Gadjah Mada, Y Nindito Adisuryo adalah Analis Kerja Sama di Kementerian ESDM)
Sumber: mediaindonesia.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel